Catatan Dari Kelurahan Gerem yang Terkepung Kapitalisme Industri

1093

Medianews.co.id – Cilegon, Desas desus Investasi pulahan Trilyun pada salah satu Perusahaan industri padat modal di sekitar wilayah Gerem kecamatan Grogol Kota Cilegon kian nyaring terdengar, tidak begitu istimewa karena memang kota Cilegon dikenal dengan kota Industri artinya tiap jengkal di Kota tersebut kita tidak sulit menemukan pabrik-pabrik padat modal yang berjejer saling berhimpit.

Pastinya investasi dikota ini cukup besar tidak serta merta bisa dirasakan oleh seluruh masyarakatnya yang kurang lebih hanya berjumlah 450 ribu, yah kota ini Kota dengan Jumlah masyarakat paling sedikit di Provinsi Banten.

Menariknya Pada awal kemunculan alat produksi dan perkakas modern tidak serta merta masyarakat Cilegon bergembira ria dan sorak sorai, awalnya masyarakat tidak terpengaruh dengan keberadaan Industri modern tersebut.

Diperkuat Saat diskusi dengan beberapa orang tua dahulu di tempat kelahiran saya di desa/kelurahan Gerem Kecamatan Grogol Kota Cilegon, Banten, mereka tidak ada minat untuk kerja di industri karena sadar kemampuan mengoprasikan perkakas modern tidak paham dan juga dahulu aktivitas pekerjaan bertani, nelayan dan berjualan di pasar lebih menjanjikan sebelum di hegemoni dan di negasi oleh Neokapitalisme.

Melirik Kota Cilegon dalam pembentukannya yang mengalami beberapa masa, yang dimulai dari masa Sultan Ageng Tirtayasa (tahun 1651 – 1672). Pada tahun 1651 dimana Cilegon merupakan sebuah kampung kecil dibawah kekuasaan Kerajaan Banten.

Memasuki era 1962, di Cilegon berdiri pabrik baja Trikora yang merupakan babak baru bagi era industri wilayah Cilegon. Industri baja Trikora berkembang pesat setelah keluar Peraturan Pemerintah Nomor 35 tahun 1970 tanggal 31 Agustus 1970 yang mengubah pabrik baja Trikora menjadi pabrik baja PT. Krakatau Steel Cilegon berikut anak perusahaannya.

Perkembangan industri yang pesat di Cilegon berdampak pula terhadap sektor lainnya seperti perdagangan, jasa, dan jumlah penduduk yang terus meningkat. Mata pencaharian penduduk Cilegon yang semula sebagian besar adalah Petani, Nelayan, pedagang kecil berubah menjadi buruh Pabrik, Jasa, dan lain sebagainya. PT. Krakatau Steel telah mendorong pembangunan dan perkembangan yang sangat pesat bagi wilayah Cilegon, yang akhirnya mempengaruhi kondisi sosial budaya masyarakat dan tata guna lahan dan perairan laut. Daerah persawahan, perladagan dan kelautan menjadi daerah kawasan industri, perdagangan dan jasa.

Setelahnya, kini ratusan industri mengepung Desa dan beralih pula alat produksi masyarakat dari alat pertanian, alat nelayan ke alat modern yakni alat produksi industri yang di tandai dengan maraknya sekolah-sekolah sampai jurusan kuliah yang berorientasi pada keterampilan guna kepentingan Industri.

Lagi, kini desa/keluraham Gerem yang dahulu identik dengan Tape (fermentasi dari singkong) kini kian sulit dijumpai dikarenakan lahan yang kurang produktif dan kebanyakan masyarakat beralihnya profesi menjadi buruh-buruh murah di pabrik sekitar Desa.

Wacana-wacana politik pemerintah daerah untuk mengantisipasi kesenjangan sosial belum berjalan baik, Kedaulatan politik seharusnya dibarengi dengan kedaulatan ekonomi, Kedaulatan politik dalam proses pembuatan dan keputusan kebijakan maka menjadi cerminan kondisi sosial ekonomi rakyatnya.

Ditambah Negara absen dalam memahami logika ekologi yang dimana keindahan alam secara estetika di desa Gerem kini tidak bisa lagi di nikmati, contoh matahari tenggelam di sore hari kini dibalik tembok raksasa Industri bukan dibalik horizon, tarikan nafas kini tidak lagi seharum udara dahulu waktu saya kecil. Satu satunya keindahan ekologi ada di gerem yakni batu lawang.

Melirik struktur klas dalam masyarakat industri ditandai dengan dominasi kaum borjuis yang mempunyai kekayaan pribadi dan mendominasi klas pekerja yang lebih banyak jumlahnya tetapi lebih rendah ekonominya.

Mirisnya, Ekonomi kapitalisme yang kian menghegemoni desa tidak di imbangi dengan pengetahuan masyarakatnya pasalnya masyarakat Desa tidak memahami perkembangan semenjak semula dalam konteks feodalisme dan merkantalisme. Demikian juga orang tidak akan memahami tingkah laku proletar (Buruh) tanpa melihat asalnya petani.

Arus penetrasi budaya industri inilah yang mendorong pemuda di desa kini kian enggan bertani atau nelayan selain lahan dan alat produksinya kian punah dan terlebih memilih menjadi buruh pabrik karena memang dirasa menjanjikan.

Disamping itu pada dasarnya semua manusia desa atau kota adalah intelektual namun tak semua menjalankan fungsi intelektual dalam masyarakat. Hal ini kemudian terbagi dua katagori intekektual, yakni intelktual perkotaan dan pedesaan, yang pertama tumbuh berbarengan dengan dunia industri dan bergantung kepada kemakmuran dunia industri dan intelektual desa kini bergantung kepada dunia materialisme dalam rayuan kapitalisme Industri.

Gelombang neoliberalisme tidak ketinggalan menelan buruh pabrik dan mengantarkan mereka ke kondisi kerja yang semakin tidak pasti dan tidak terlindungi. Melalui kebijakan pasar kerja fleksibel yang memudahkan merekrut dan memecat buruh , keamanan dan kepastian kerja di sektor formal diubah menjadi kekhawatiran dan ketidak pastian dalam kerja. Banyak masyarakat desa menjadi buruh kontrak, buruh lepas, buruh harian dan buruh outsourcing di pabrik. Minimnya pengetahuan serta tingginya perlombaan, Nepotisme untuk masuk pabrik menjadi sebab sulitnya masyarakat desa menjadi Karyawan tetap.

Jika Imperialisme dan Kolonialisme Kuno (Spanyol, Portugis, VOC, Fasis Jepang, dan NICA) menggunakan senjata api untuk menjajah suatu negeri, maka sekarang, Imperialisme dan Kolonialisme Modern (Neo Kolonialisme dan Neo Imperialisme, Nekolim) lebih pintar dengan tidak lagi memakai senjata api namun mempergunakan kekuatan modal/uang.

Dari dasar itulah masyarakat desa yang di kepung kapitalisme industri harus berpendidikan karena kini bisa di hutung jari berapa banyak pemuda Desa yang mengenyam sampai bangku kuliah. Kesadaran masyarakat harus tampak dengan jalan gotong royong untuk sama-sama berkembang dengan sadar bahwa di Cilegon dengan ekonomi yang besar harusnya tidak ada lagi masyarakat yang kekuarangan makan. Dengan gptong royong dan semangat merubah nasib maka Kapitalisme akan tidak mampu menggunakan semua kemungkinan tersebut. Ini dikarenakan kapitalisme berjalan bukan untuk peradaban manusia, namun berjalan atas kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi yang justru menjadi belenggu atas potensi kekuatan produksi.

Selanjutnya faktor eksternal yakni tatanan birokrasi yang sehat harus dicanangkan yang ditandai dengan tidak adanya kapitalisme birokrasi yakni mereka klas parasit yang khas dalam sistem masyarakat setengah jajahan dan setengah feodal yang bergantung pada penghisapan feodalisme dan bergantung pada kapital milik imperialis. Mereka pelayan setia imperialis dan sekutu klas penghisap dalam negeri, borjuasi komprador dalam mempertahankan sistem jahat untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan finansial untuk memperkaya diri.

Tugas pemuda desa lah yang akan merubahnya bukan orang tua karena orang tua hanya bisa bermimpi dan biarkan yang tidak murni akan terbakar mati.

Tulisan Ini adalah upaya
pematangan Intelektual bagian dari sebuah kesadaran kultural yang tidak lagi tercetak oleh pamflet-pamflet murahan, menjadi lebih penting lagi saat musuh-musuh klas menggunakan segenap instrumen propaganda untuk menyebarluaskan berita-berita yang bertujuan untuk menyembunyikan atau mendistorsi kebenaran. (Bung Syaihul Ihsan ketua DPC GMNI Kota Cilegon)