Dirreskrimsus Polda Banten Ungkap Kasus Penyebar Berita Hoax

985

Medianews.co.id – Serang, Reserse Dirreskrimsus Polda Banten menggelar konferensi pers tentang “tangkapan serta mengungkapkan tujuh kasus tersangka penyebar berita bohong (Hoax) dan Ujaran kebencian (Hate Speech) di wilayah Provinsi Banten, adapun tujuh kasus tersebut ada yang masih dalam penyelidikan, penyidikan, dan telah ditangani kejaksaan, serta ada kasus yang selesai dengan perdamaian dengan menggunakan asas restorAtive justice.

Dirreskrimsus Polda Banten Kombes Pol. Abdul Karim mengatakan tentang laporan adanya berita bohong dan ujaran kebencian di Banten, salah satunya berita Hoax yang terjadi di Kelurahan Muara Ciujung Timur, Rangkas Bitung dan Kabupaten Lebak, kata Kombes Pol Abdul Karim, saat konferensi pers di Mapolda Banten, Jumat (02/03).

Selain itu Tim Cyber Polri dengan join investigasi Polda Banten tersangka berinisial YH dan YA, yang mengupload berita Hoax tentang kebangkitan PKI, kejadian di Philipina tapi seolah-olah kejadianya terjadi di Indonesia, sehingga masyarakat merasa resah dan tersangka sudah diamankan dan dalam pengembangan kasus.

Adapun tersangka Z, warga kabupaten Pandeglang mengupload di media sosial tentang keberadaan PKI di Banten pada tanggal 19 februari 2018, selain itu juga masih di wilayah Pandeglang tersangka AB, yang menulis di media sosial tentang isu SARA, keduanya dikenakan Undang-undang nomor 19 Tahun 2016 tentang informasi dan transaksi Elektronik (UU ITE) dengan ancaman 6 tahun penjara”, ujarnya.

Sementara itu, di wilayah hukum Mapolsek Tanara, Kabupaten Serang pada Januari 2018 telah mengamankan Tersangka SA, sedangkan AH membuat ujaran kebencian di media sosial dan setelah kita teliti medsosnya, terdapat foto – foto asusila, dan kasus inipun dikenakan UU ITE,” terangnya.

Masih di tempat yang sama, Dirreskrimum Polda Banten Kombes Pol. Onny Trimurti menambahkan banyaknya berita bohong yang menyebar, akan memberikan dampak yang negatif terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Seperti isu Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), banyak orang gila yang menjadi korban dan mereka tidak tahu apa-apa, serta dianiaya oleh masyarakat, oleh karena itu kami untuk kedepan akan lebih meningkatkan kembali operasi cyber yang sudah dilakukan selama ini,” tambahnya. (Sunah)