Komunitas Aje Lemot Cilegon Wadah Anak Muda yang Siap Eksis Berkreasi

33

Medianews.co.id,- CILEGON- Komunitas anak muda Aje Lemot Cilegon, secara simbolis mendeklarasikan kepengurusan organisasi kaum millenial di Kota Cilegon tersebut, yang dirangkai dengan acara silaturahmi dan buka bersama anggota dengan Dewan Pendiri dan Dewan Pembina Aje Lemot di Sekretariat Griye Seni Mameu Yai, Jum’at (30/5/2019).

Komunitas yang sebenarnya sudah eksis dalam beberapa tahun terakhir di kota industri ini. Selain aktif di darat, mereka juga memiliki jaringan di Medsos untuk saling berinteraksi dan memposting hasil karya atau kreativitas, mulai seni musik, fhoto hingga video atau film pendek dokumenter. Karya mereka bisa dilihat di Instagram: Aje-lemot, Facebook: Aje lemot dan Youtube: Ajelemot.

“Dengan pengukuhan ini kita ingin lebih solid dan kompak khususnya dalam menyalurkan bakat, punya langkah yang lebih terkonsep dan terarah,” kata Ketua Aje Lemot, Rudi Sanjaya, Jum’at (31/5/2019).

“Aje Lemot diambil agar kita sebagai nama komunitas agar kita kalangan milleneal tidak lamban dan hanya menjadi penonton dalam roda pembangunan ini. Kita harus cekatan kreatif dan cepat membaca trend topik dan peluang,” imbuh pria yang kerap disapa Jay ini.

Jay juga menjelaskan berbagai kegiatan yang ada di Aje Lemot ini, pihaknya mengakomodir berbagai bakat kreatifitas anak muda yang memiliki bakat enterpreunership dan kiprah seni, untuk kemudian dilatih dan dikembangkan di dalam komunitas tersebut.

“Ada dari kreator youtuber, film dokumenter pendek, fhotografer, musik akustik dan ada juga yang pengen belajar usaha disini. Untuk bakat seni kita belajar dan diarahkan sama Mameu Yai Uyat selaku pembina Aje Lemot. Sedangkan untuk prospek usaha Pak Johan selaku pendiri yang membimbing,” jelasnya.

Pendiri komunitas Aje Lemot Cilegon, Johan Singandaru menjelaskan dengan didirikannya organisasi ini untuk menyambut ‘bonus demografi’ yang terjadi di Indonesia, karena menurutnya ada pertumbuhan anak muda yang melampaui keberadaan orang tua.

“Kita komunitas ini ingin mengisi itu. Puncknya di 5 tahun kedepan. Saya melihat anak muda di Cilegon ini banyak memiliki bakat dan kreatifitas yang kita akomodir melalui wadah yang kita bentuk ini,” terangnya.

Johan yang juga merupakan pengusaha muda ini, menjelaskan dalam waktu 5 tahun ke depan akan ada dua kemungkinan yang bakal terjadi bila tidak disikapi sejak saat ini. Terlebih di Cilegon ini menurutnya meski banyak organisasi namun dalam aksentuasinya tidak konkrit, untuk itulah dirinya terinspirasi untuk mendirikan komunitas Aje Lemot ini.

“Ketika pemerintah tidak siap dan bisa mengelola bonus demografi ini maka akan lahir bencana pengangguran yang tinggi, dan kalau mampu dan sukses ya pemuda yang memegang peran. Dan komunitas Aje Lemot ini akan menjadi mitra strategis kaum milleneal seluruh stekholder baik pemerintah maupun swasta,” ungkapnya.

“Kita lihat pemaim musik yang mengisi di caffe-caffe banyak dari luar Cilegon, maka solusinya anak muda Cilegon yang punya bakat seni musik harus kita siapkan dulu untuk mengisinya. Segala bidang juga kita dorong, salah satunya adalah youtuber Cilegon yang baru dua bulan saja memiliki 5000 lebih subscriber. Program akan kita konsep setelah organisasi ini terbit legalitasnya, tapi habis lebaran kita mulai tunjukan kreatifitas anak muda ini,” tambahnya.

Sementara itu, Dewan Pembina Seni Aje Lemot Cilegon, Mameu Yai Uyat mengaku bangga dengan para generasi yang kompak dan mempunyai keinginan mengembangkan bakatnya tersebut.

“Mereka perlu kita ’emong’ utamanya bakat seni mereka positif harus disalurkan dan dilatih agar bisa terus berkembang. Syukur kalau sampai ada yang jadi seniman atau artis. Anak-anak muda ini bukan dari Cilegon saja, ada yang dari Mancak, Anyer. Dan siapa saja anak muda yang punya bakat seni, ayo gabung dengan Aje Lemot,” ujar Mameu Yai Uyat.

Dan menariknya, di dalam Komunitas Aje Lemot ini sekitar 50-60 anggotanya masih menggunakan bahasa Jawa Cilegon. Sehingga Mame Yai yang merupakan budayawan Banten multi talenta ini berharap komunitas ini juga secara tidak langsung sebagai sarana untuk terus menjaga bahasa lokal tidak kikis.

“Kita lihat sekarang kemajuan zaman, banyak anak-anak yang ngomonge leter B, ada yang ela elu. Saya bersyukur anak-anak ini selain berbakat, peduli dan rafek sesama temen, kalau kumpul ngomongnya Jawa Cilegon, mereka generasi bangsa yang gaul tapi bisa jadi benteng budaya Cilegon,” harapnya. (red)