Masyarakat Puloampel Ancam Demo KSOP Banten Secara Besar-besaran

129

Medianews.co.id,- SERANG- Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pesisir Puloampel (AMPP), menggruduk Kantor Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Banten di Jalan Pulorida Pulomerak, Kota Cilegon. Senin (8/4/2019).

Pasalnya, sebagian masyarakat Puloampel yang selama ini bekerja dan menggantungkan ekonomi dari aktifitas Jetty Perusahaan Bongkar Muat (PBM), tidak lagi bisa bekerja lantaran pihak KSOP Banten tidak lagi memberikan dispensasi kebijakan berupa pelayanan jasa kepelabuhanan aktifitas Jetty berupa Terminal Khusus (Tersus) dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) .

“Saya gak dapat penghasilan kalau Jetty gak jalan, dapur gak ngebul. Udah hampir semingguan lah tutup. Saya datang kesini (KSOP), mohon agar Jetty dibuka lagi,” keluh Hendi, salah satu anggota AMPP.

Desakan juga diungkapkan Ketua AMPP, Agus Hawasi yang mengatakan bahwa sebelumnya ia sudah berupaya menegur beberapa PBM untuk kembali beraktifitas agar warga bisa kembali mencari nafkah.

“Kami dari Alansi Masyarakat Pesisir Puloampel sudah menanyakan kepada perusahaan-perusahaan bongkar muat, tapi katanya karena KSOP tidak mau memberi pelayanan lagi, sehingga kegiatan Jetty tidak boleh jalan. Jelas kami tidak terima,” terangnya, saat ditemui wartawan.

“Kami mendesak KSOP Banten untuk kembali memeberikan pelayanan jasa kepelabuhanan kepada PBM-PBM yang mengelola Jetty di wilayah Puloampel, karena jelas ini menyangkut hajat perut orang banyak,” imbuhnya.

Agus bahkan mencurigai adanya dugaan diskriminasi pelayanan jasa kepelabuhanan Tersus dan TUKS yang dilakukan oleh KSOP Banten, untuk melancarkan usaha perusahaan tertentu saja.

“Kami menduga adanya indikasi monopoli usaha yang mungkin dimainkan oleh KSOP melalui pelayanan jasa kepelabuhanan. Faktanya ada Jetty yang masih diberikan pelayanan. Hasil mediasi dengan KSOP belum ada keputusan.
Kami beri waktu kalau KSOP masih tidak memberikan dispensasi pelayanan kepada Jetty-Jetty dalam 2 hari kedepan maka kami akan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran di KSOP,” tegasnya.

Keluhan juga dirasakan oleh salah satu perwakilan PBM, Jajang yang mengaku kecewa dengan kebijakan yang dilakukan oleh KSOP Banten tersebut. Selain usahanya tidak berjalan, pihaknya juga menyayangkan proses perizinan di Direktorat Jendral Hubungan Laut (Dirjen Hubla) yang lamban.

“Saya sudah mengajukan perizinan sejak tahun 2016 lalu, sampai SIUP mati. Segala persayaratan perizianan sudah dipenuhi, tapi dalam mekanisme kewenangannya Dirjen Hubla sangat lamban,” keluhnya.

Jajang juga menjelaskan dan mempertanyakan kebijakan KSOP Banten yang menurutnya tidak sejalan dengan ketentuan regulasi terbaru yang telah ditetapkan oleh lembaga pemerintah yang membawahi KSOP.

“Tapi seharusnya mereka kawal juga. Perijinan yang ada di dalam wilayah DLKR DAN DLKP KSOP Banten setelah semua perizinan terbit baru ditertibkan sesuai pelayanannya,” tegasnya.

“Padahal dalam instruksi Dirjen Hubla bernomor: A. 312/ AL. 308/ DJPL, kepada KSOP di poin 5 terkait Tersus dan TUKS untuk pemanfaatan Garis Pantai yang sudah mengajukan permohonan sampai dengan tanggal 31 Desember 2017, tetap dapat diberikan pelayanan jasa kepelabuhanan dan diberikan perpanjangan kesempatan kelengkapan persyaratan perizinan Tersus atau TUKS sampai 30 Juni 2019 nanti,” bebernya.

Jajang juga menegaskan kalau pihaknya merasa masih berhak mendapatkan disepnsasi kebijakan pelayanan jasa kepelabuhanan dari KSOP Banten.

“Dasarnya ketentuan Peraturan Mentri Perhubungan Nomor PM 89 Tahun 2018, saya punya bukti pengajuan sejak tahun 2016, kenapa usaha kami tidak dilayani oleh KSOP? Tapi maksud kedatangan kami hari ini ke KSOP masih tidak diindahkan,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala KSOP Banten, Herwanto saat dikonfirmasi menurut beberapa stafnya sedang ada Raker di Kementrian Perhubungan.

Kepala Bidang Lalu Lintas Laut (Kabid Lala) KSOP Banten, Hotman Sidrajad mengatakan pihaknya akan menyampaikan aspirasi masyarakat tersebut kepada Dirjen Hubla.

“Mereka menyampaikan aspirasi ke kita, sudah kita catat nanti kita laporkan ke Dirjen (Hubla). Kita minta kebijakan itu ke Dirjen, ya mudah-mudahan saja ada gak kebijakan lain untuk itu, kalau tidak ada ya kita patuh sama aturan. Katanya sih mereka akan demo lagi secara besar-besaran,” ujarnya.

Saat disinggung soal adanya dispensasi kebijakan pelayanan jasa pelayanan umum dari Instruksi Dirjen Hubla hingga tanggal 30 Juni 2019 mendatang, menurutnya hal itu berlaku bagi perusahaan yang sudah mengantongi izin namun belum melakukan pembaharuan.

“Itu untuk yang sudah punya izin tapi belum melakukan pembaharuan hingga 30 Juni. Kalau SPW kan sudah Terminal Umum (Termum), disamping TUKS dia punya izin Termum juga. Perizinan masih aktif, baru berapa bulan itu,” ungkapnya.

Hotman juga membantah anggapan pihaknya melakukan diskriminasi pelayanan jasa pelabuhan, dengan alasan Jetty yang masih beroperasi di wilayah Puloampel dan Bojonegara statusnya Terminal Umum (Termum).

“Gak, gak bisa. Kalau kita buat diskriminasi sama saja kita buat monopoli kan? Nanti kita ketangkep KPPU juga, Undang-undang 17 kan sudah memberikan kesempatan berusaha untuk menghilangkan monopoli itu,” tegasnya.

“Kita atensinya hanya memberikan rekomendasi ya ke pusat, harusnya mereka juga follow up,” tandasnya.(red)