Ratusan forum persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB) melakukan aksi solidaritas

21

Medianews.co.id,-Serang – Ratusan Forum Persaudaraan Umat Islam Banten (FPUIB) melakukan aksi Solidaritas Muslim India yang di awali dengan longmach dari Mesjid Ats – Tsauroh menuju Alun-alun, Serang, Banten, Senin (2/3/2020).

Dalam aksi solidaritasnya Juru bicara
FPUIB Warisadeli mengatakan bahwa
dengan adanya pengesahan UU kewarganegaraan India pada Desember 2019, yang di jadikan alasan kelompok radikalis Hindu untuk melakukan persekusi dan pembantaian terhadap kaum Muslim di India yang secara nyata dilegalisasi oleh negara India dan aparatnya.

“Karena itu kami umat Islam Banten dengan ini menyatakan
mengutuk dengan keras tindakan kaum radikalis dan ekstrimis hindu yang melakukan pembunuhan , pembantaian , penindasan dan penyiksaan terhadap kaum muslim serta pembakaran terhadap mesjid-mesjid di India,” tegasnya.

Selain itu, Ia pun mendesak pemerintahan India untuk menghentikan segala bentuk kejahatan penindasan dan pembantaian terhadap umat muslim di India, serta mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil langkah politik atas peristiwa pembantaian tersebut yang dilakukan oleh ekstrimis hindu radikal dan menuntut Narendra Modi bertanggung jawab atas peristiwa berdarah tersebut.

“Maka dari itu kami menyerukan kepada kaum muslimin untuk melakukan protes besar-besaran di seluruh Indonesia serta berbondong-bondong mendatangi kedutaan besar India pada tanggal 6 Maret 2020 dengan tuntutan mendesak agar pemerintah India mencabut UU kewarganegaraan India, menangkap pelaku dan pimpinan kaum radikal dan ekstrimis hindu yang telah melakukan pembantaian atas kaum muslimin India serta melaksanakan qunut nazilah dan salat gaib di masjid -masjid ,musola -musola, dan pesantren sebagai bentuk kepedulian terhadap penderita yang dialami muslim India,” seruannya.

Ia menjelaskan, kegiatan ini sifatnya toleransi terhadap sesama muslim bukan memobilisasi massa, tidak ada akses apalagi terhadap umat Islam lain di Indonesia,
“karena kami menjaga dalam bentuk toleransi terhadap umat beragama lain akan tetapi kami menuntut kepada pemerintah Hindia dan kemudian menekan Belanda agar menghentikan segala bentuk penindasan karena bagaimanapun kami merasa sakit dan marah atas kejadian ini karena umat Islam jasadil wahid seperti tubuh yang satu sakit maka tubuh yang lainya ikut sakit,”tutupnya. (An/red)