Terkait Pelaporan Dugaan Kasus Pelecehan Seksual, Keluarga HS Angkat Bicara, Siap Laporkan Balik

52

Medianews.co.id– CILEGON- Keluarga HS yang dilaporkan atas dugaan pelecehan seksual terhadap anak perempuan dibawah umur berinisial A, mulai angkat bicara. Melalui istri HS bernama Nurbaiti membeberkan awal mula permasalahan yang terjadi hingga berujung pelaporan kepada saudara HS.

Menurutnya, apa yang disangkakan kepada suaminya tersebut merupakan rekayasa dan sengaja ingin menghancurkan rumah tangganya.

Padahal, kata Nurbaiti, jauh sebelum permasalahan ini muncul, pihaknya sudah mengenal keluarga A yang disebut bahwa korban dalam kasus pelecehan seksual. Ia dan suaminya hanya berniat ikhlas ingin membantu keluarga A. Kata Nur, dirinya degan keluarga A tersebut adalah masih tetangga kampung, masih satu kecamatan di Ciomas.

“Awalnya itu minta tolong ke suami saya, dia itu digerebeg ada masalah dikampungnya sama cowo di dalam kamar, dan yang menggerebeg itu yang nyuruhnya orang tuanya. Nah logikanya dimana sih ada orang tua yang nyuruh gerebeg anaknya, logikanya.
Seteleh digerebeg itu gak lama, malamnya nelpon suami saya jam 12 ke atas. Minta tolong perlindungan ke suami. Karena tetehnya A ini posisinya dapet kerja dimasukin oleh suami saya. Setelah itu ditolonglah sama suami, katanya kalo ada rumah Cilegon tolong ikut dulu. Kebetulan rumah saya kontrakan di Cilegon ada yang kosong. Saya kan tinggal di keserangan, ahirnya dtempatin sama keluarganya semua. Sedangkan rumah mereka dijual karena nanggung malu setelah digerebeg. Kata dia berapapun hutangnya nanti saya akan bayar,” kata Nurbaiti, Kamis (3/9/2020).

Setelah itu, lanjut Nur, keluarga A ini selalu minta bantuan baik modal usaha hingga untuk biaya token listrik rumah kontrakan hingga A yang masih duduk dibangku sekolah pun dicarikan sekolah di cilegon agar tetap menjalankan sekolahnya. Namun kebaikannya itu, malah berubah menjadi petaka, kata Nur istri HS, orang tua A justru membuat isu di kampung halamannya Ciomas, bahwa suaminya HS telah menikahi anaknya di Cilegon.

“kita kan cuma nolong, cuma kita juga ada batasannya. Dia juga butuh modal usaha, kita modalin, semua kebutuhan dia kita tanggung. Terus orang tuanya malah ngomong begini, mau nyerahin anak saya ke kang Hasan. Sampai pernah minta dinikahin. Kan ada anak ceweknya 2. Saya kira becanda aja. Setelah itu bikin isu di ciomas, saya kan orang sana, katanya udah nikahin anaknya, dkasih rumah, iya uangnya pinjem dari saya. Saya kan gak nyaman dengan gosip-gosip beredar disana. katanya ibunya yang ngomong ke orang-orang kalo suami saya menikahi anaknya,” jelasnya.

Karena merasa tidak nyaman dengan isu yang beredar di kampung halamannya, dan khawatir karena mengganggu keharmonisan rumah tanggany, Nurbaiti ahirnya mengusir keluarga A. Setelah melalukan pengusiran, keluarga A justru melontarkan nada ancaman kepada dirinya.

“Karena merasa tidak nyaman, saya usir lah mereka dari kontrakan saya. Ya wajar saya usir karena mengganggu rumah tangga saya. Kalo masih mau disini silahkan bayar langsung sama yang punya rumahnya. Kalo gak bisa bayar silahkan cari tempat tinggal yang lain. Tapi malah bikin fitnah baru, katanya berbuat kasar, padahal gak begitu. Ahirnya saya tagih hutang semua kapan mau bayarnya. Setelah ditagih malah ngancem saya, kata tetehnya, ahirnya mamah (orang tua Nur-red) saya ditanyain, bener tah suami Nur nikahin anak itu, nah ortu saya kan kaget, mantu saya dirumah aja, baik baik aja, kenapa ada isu gak beres, setelah ditagih malah ancam tunggu tanggal mainnya. Mau nagih hutang koq malah masalahnya lari kemana-mana,” ujarnya.

Nur mengungkapkan, keluarga A berniat menghancurkan rumah tangganya lantaran telah diusir.

“Mereka berniat menghancurkan rumah tangga saya, mungkin karena diusir itu, karna dia menggoda suami saya. Dia bilangnya itu pengen buat kamu hancur dengan penjarahin Hasan,” terangnya.

Nur menegaskan, pihaknya akan melaporkan balik perkara tersebut ke pihak kepolisian karena telah mencemarkan nama baik, laporan palsu dan mengganggu keharmonisan keluarganya.

“Ini menyangkut nama baik keluarga, ini juga tentu beban moril, anak-anak saya masih kecil. Tapi saya harus tegar, karna ada anak-anak. Jelas saya akan melaporkan balik permasalahan ini. Selain itu ia juga berharap agar pihak penyidik dari kepolisian lebih berhati-hati dalam menangani permasalahan ini,” ucapanya.

Sementara itu, Awaludin yang merupakan pegawai HS juga turut berkomentar, menurutnya, apa yang dituduhkan terhadap HS sangat disesalkan, karena awalnya hanya niat ingin membantu.

“Orangtua A memohon dicarikan kontrakan. Akhirnya tanpa sepengetahuan H dan istrinya, kami carikan. Jadi H dan istrinya (Nurbaiti) tidak tahu. Tiba-tiba di bulan Mei, saya dengar bos saya (H) dilaporkan ke polisi. Ini tiga bulan setelah tidak ada kabar dari keluarga A. Keluarga sempat mengancam Nurbaiti lihat aja tanggal mainnya. Saya rusak rumah tangga kamu. Mendengar itu jelas saya marah, ini orang kok dibantu malah ngelunjak,” kata Awaludin, yang mengaku mengetahui kronologis awal semua cerita karangan yang dibuat keluarga A.

“Sempat orangtua A di awal itu menawarkan kepada H untuk menikahi salah satu anaknya. Namun H menolak karena menganggap A dan kakaknya B seperti anak sendiri dan karena H sudah mempunyai istri yang tidak lain merupakan tetangga Nurbaiti. Dan sebenarnya yang membantu keluarga A itu Nurbaiti istrinya H. Kok malah nusuk dari belakang. Ternyata ada udang dibalik batu. H itu orang baik, suka membantu. Dan setiap mau menolong orang, beliau (H) selalu meminta izin ke istrinya dan seterusnya istri H (Nurbaiti) yang menjalankannya. Termasuk saat ingin membantu keluarga A. Apalagi keluarga A ini merupakan tetangga di kampung Nurbaiti,” tutur Awaludin.