Adu Sindir Sedulur Di Pilpres 2019.

72

Medianews.co.id,- JAKARTA – Partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Demokrat, dalam Kontestasi Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019, diterpa isu negatif perihal dukungan suara.

Partai Berlambang Bintang Merci Merah tersebut, telah berhasil memenangkan SBY untuk dua periode sebagai Presiden Indoensia pada 2004-2014, sehingga dukungan suaranya menjadi Primadona tersendiri.

Hal itu, menarik perhatian utama dalam proses pemenangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres-Cawapres) Pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, dimana Demokrat menjadi Partai Pengusung.

Menanggapi isu dukungan, Putu Supadma Rudana, Juru Bicara Kogasma Partai Demokrat, menanggapi pernyataan yang dilontarkan, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Ahmad Muzani yang mengatakan Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pernah berjanji bakal bersafari dengan Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno.

Berikut pernyataan Putu Supadma Rudana, via Whatsapps, mengirim perss release resmi dari tim media AHY, Rabu, (14/11/2018), diantaranya:

1. Sekjen Partai Gerindra memberikan informasi yang tidak utuh, tendensius dan menyesatkan publik serta berusaha menyeret Komandan Kogasma PD pada persoalan yang tidak produktif.

2. Dalam pertemuan AHY dan Sandiaga Uno di Kediaman Mega Kuningan Timur, pada, 12 September 2018, Sandiaga Uno berjanji banyak hal dihadapan SBY dan Prabowo Subianto. Setelah berjanji banyak hal, Sandiaga Uno meminta kesediaan AHY untuk ikut bersafari dengan Sandiaga Uno. AHY menyanggupi tetapi tidak ditentukan waktunya kapan. Hingga hari ini, Mas Sandiaga Uno bukan hanya tidak ada itikad baik untuk menepati janji-janjinya itu, tetapi juga tidak pernah melakukan komunikasi lagi dengan AHY.

3. Sementara itu, keseriusan AHY untuk membantu Pasangan Capres Cawapres Prabowo Subianto sudah dibuktikan dengan kesediaan AHY sebagai Anggota Dewan Pembina Tim Pemenangan.

“Pertanyaan terbesar kami, seberapa serius Mas Sandiaga Uno berjuang untuk menang ketika duduk bersama antara para Anggota Dewan Pembina saja tidak pernah dilakukan, sehingga tidak jelas siapa akan berbuat apa,” kata Putu Supadma.

“Mas AHY sebagai Komandan Kogasma terbiasa berpikir dan bertindak sistematis, sebelum eksekusi lapangan, selalu ada perencanaan dan persiapan yang matang. Beliau meyakini, persiapan yang baik adalah 50% kemenangan,” lanjutnya.

4. Di sisi lain, saat ini AHY juga tengah sibuk turun ke lapangan guna mengonsolidasikan suara Partai Demokrat. Dalam berbagai survei, alasan rakyat memilih partai politik karena faktor figur nasionalnya menjadi justifikasi yang cukup kuat, mengapa saat ini lAHY rajin turun ke lapangan bersama Kader Partai Demokrat.

“Jadi prioritas pertama ada pada Partai baru kemudian Capres-Cawapres. Hal ini dilakukan bukan hanya oleh Partai Demokrat, tetapi juga oleh partai-partai lainnya. Inilah pertama kalinya Pileg dan Pilpres dilakukan bersamaan, sehingga bagi Partai yang tidak memiliki Capres Cawapres harus bekerja keras karena tidak memiliki pengaruh langsung dan efek elektoral,” papar Putu.

5. Kami menyadari bahwa Pasangan Capres Cawapres Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sangat mengharapkan bantuan SBY dan AHY untuk menaikkan elektabilitas mereka yang cenderung stagnan.

“Di lapangan, kesukaan dan dukungan rakyat kepada AHY-SBY ini cukup tinggi. Untuk itu, jika benar pasangan ini serius untuk menang, maka janji-janji yang pernah diucapkannya agar direalisasikan, bukan janji dibayar dengan janji,” tukasnya.

6. Kami meminta kepada Partai Gerindra agar tidak banyak mengeluh kepada publik dan meminta partai lain untuk melakukan ini itu karena hanya akan membuka aib Partai Gerindra sendiri. Sebagai bagian dari koalisi, kami mengajak duduk bersama untuk merealisasikan janji-janji yang sudah dibuat oleh Pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Intinya, “kami mendesak untuk segera dilakukan konsolidasi agar pekerjaan dan hasilnya lebih produktif,” tegas Putu tawarkan Opsi.

7. Optimisme yang ingin kami bangun adalah merealisasikan janji-janji Prabowo-Sandi kepada Partai Koalisi merupakan hal yang utama sebelum berjanji kepada rakyat dan kemudian merealisasikannya.

“Jika berjanji kecil kepada “rakyat terdekat” saja tidak mampu direalisasikan, bagaimana dapat mewujudkan banyak janji kepada rakyat luas. Jangan nodai rakyat dengan janji-janji. Berikan bukti, dan bukan janji,” sindir Putu.(asp/red)